Si Hitam Pembawa Rezeki

Oktober 2, 2007

Sekali lagi, inilah manfaat dari limbah kelapa. Kalau beberapa waktu lalu kita bicara tentang sabut kelapa (lihat tulisan berjudul “Rayuan Sabut Kelapa) sekarang giliran batok kelapa. Di pasar biasanya konsumen membeli kelapa yang sudah dikupas batoknya, bahkan kemudian langsung kelapanya diserut di situ. Nah, batok yang menumpuk di pedagang kelapa inilah yang bisa diolah menjadi arang batok, bahan baku karbon aktif untuk keperluan sejumlah industri. Cara membuatnya mudah. Setelah dijemur sampai kering, batok ditaruh dalam drum bekas, sedikit saja dulu, kurang lebih tumpukannya setinggi 10 cm. Kemudian batok tadi disiram minyak tanah dan dibakar. Selanjutnya batok yang sudah menyala tadi sedikit demi sedikit ditimbun dengan batok lainnya. Usahakan apinya jangan sampai mati sebelum terbentuk bara yang cukup banyak. Setelah drum tadi terisi penuh dengan batok, kemudian ditutup rapat-rapat dengan karung goni basah supaya karbonnya tidak terlepas ke udara, dan teroksidasi. Sebab kalau itu terjadi maka akan terjadi pengabuan. Setelah 24 jam batok itu telah menjadi arang.

Bila modalnya cukup besar, bisa juga dibuat tungku pembakaran berupa silo dalam tanah atau di atas permukaan tanah, dengan bahan ferrosemen. Dengan tungku semacam ini kualitas arangnya akan jauh lebih baik, karena lebih terjaga dari kemungkinan teroksidasi.

Setelah menjadi arang, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan, tergantung permintaan pasar. Dalam bentuk aslinya arang itu bisa dijual kepada pedagang sate, restoran maupun hotel. Hotel dan restoran memerlukan arang batok misalnya untuk membuat barbeque atau makanan lain yang memerlukan proses pemanggangan. Jangan sepelekan pasar ini, karena seorang pembuat arang batok di Bekasi ternyata memerlukan arang batok dalam hitungan ton setiap minggunya untuk memenuhi permintaan sejumlah hotel di Jakarta dan Bekasi.

Arang batok juga merupakan bahan baku karbon aktif untuk keperluan berbagai industri. Untuk keperluan itu arang harus dibuat dalam bentuk butiran. Cara paling mudah tentu saja arang batok bisa ditumbuk, atau digerus dengan mesin penggerus sederhana. Setelah menjadi butiran kemudian disaring dengan ukuran mesh tertentu sesuatu permintaan industri tersebut. Misalnya saja ukuran mesh 35, itu berarti butiran itu lolos di saringan nomer 3 dan tertahan di saringan nomer 5.

Biaya produksi arang batok ini tidak besar. Satu karung batok kelapa kurang lebih seberat 20 kg, harganya Rp 2.500. Rendemen dari batok menjadi arang nilainya sebesar 25%. Sehingga untuk menghasilkan arang seberat 1 kwintal dibutuhkan batok seberat 4 kwintal. Biaya lain adalah untuk drum dan sedikit minyak tanah.

Harga jualnya, konon lumayan fluktuatif, tergantung mekanisme penawan dan permintaan. Namun sebagai ancar-ancar harga jualnya sekitar Rp 1.500 per kilogram. Sampai saat ini pasar masih sangat terbuka, termasuk juga pasar ekspor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: