Primadona Barang Bekas

Oktober 2, 2007

Di antara barang rongsokan, boleh dibilang botol bekas merupakan barang yang mempunyai nilai tinggi. Bukan hanya karena bentuknya yang masih utuh – apalagi kalau dibandingkan dengan barang rongsokan lain – botol bekas juga masih bisa digunakan sesuai peruntukan barunya. Maksudnya, botol bekas kecap misalnya, bisa digunakan lagi oleh pabrik kecap untuk kemasannya. Kenyataan itu terlihat jelas di Panguragan, satu daerah di Cirebon yang dikenal merupakan pusat penampungan barang-barang bekas. Perdagangan botol bekas di sana mendominasi hampir separuh kegiatan usaha barang rongsokan.

Dengan jaringan yang begitu luas dari para pedagang di Panguragan, bisa dibayangkan berapa besar peredaran botol-botol bekas ini. Dari penuturan seorang pengurus Koperasi Wirausaha Wirakarya Sejahtera, Drs Suherman Fachrudin, semakin terungkap bahwa botol bekas memang primadona di daerah itu. “Dari perdagangan botol bekas saja, tiap bulan bisa mencapai Rp 22 miliar lebih,” demikian katanya seperti dikutip Kompas.

Botol bekas banyak ragamnya. Ada botol kecap yang berwarna hijau atau coklat tua. Kemudian botol obat, botol suntik, botol infus, botol parfum, botol minuman dan masih banyak lagi. Uniknya di Panguragan, ada yang mengkhususkan diri bergiat pada masing-masing botol itu, ada pula yang usahanya campuran, menangani banyak ragam botol.

Banyak ragam botol tentu saja membuat harganya pun bervariasi. Botol bekas minuman seperti Fanta, Coca Cola, Sprite dan Teh Botol misalnya, karena bentuknya khusus, biasanya agak murah karena pembelinya terbatas, yakni hanya perusahaan minuman itu sendiri. Sedangkan botol kecap yang bentuknya “universal’ lebih mahal karena banyak produk yang bisa dikemas dengan botol jenis itu.

Harga botol juga bervariasi terhadap waktu. Menjelang lebaran misalnya, ketika produsen makanan dan minuman meningkatkan produksinya, kebutuhan akan botol juga meningkat sehingga harga botol pun melambung. Namun ketika kondisi normal, harga botol pun bergerak turun.

Para pedagang botol bekas ini pernah mengalami pukulan berat, ketika tahun 1992 pemerintah mengeluarkan larangan agar perusahaan farmasi tidak menggunakan botol bekas. Larangan itu sempat membuat usaha mereka anjlok. Botol yang sudah terkumpul dihancurkan untuk dijual sebagai beling. Namun harganya sangat jatuh. Tetapi lama kelamaan perusahaan farmasi tidak kuat untuk terus menerus menggunakan botol baru. Mereka mulai mencampur botolnya dengan botol bekas. Bahkan ketika krisis menerpa, tidak ada pilihan lagi, botol bekaslah yang digunakan. Sehingga usaha para pedagang botol bekas ini pulih kembali.

Usaha botol bekas juga memberi peluang kerja bagi ibu-ibu dan anak-anak, yakni sebagai pencuci botol. Maklum sejumlah perusahaan menghendaki membeli botol dalam keadaan bersih, sehingga muncullah usaha cuci botol. Dalam sehari seorang ibu tuknag cuci bisa memperoleh uang sebesar Rp 8.000,- sampai Rp 10.000,-. Lumayan kan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: