Menyulap Sampah Menjadi Rupiah

Oktober 2, 2007

Menyulap Sampah Menjadi Rupiah
Gemah ripah bisnis barang bekas di Bandung
Jangan buru-buru membuang barang bekas Anda ke tong sampah. Jangan biarkan membusuk di dalam gudang. Sejumlah gerai barang bekas di Bandung siap menampung barang rongsokan Anda. Nikmati sedapnya untung hingga 200%.
Femi Adi Soempeno (Bandung)

Selamat datang di Bandung. Kota Kembang ini tak segerah Jakarta. Di sebagian jalan-jalan utamanya, pepohonan masih bersedia membagi kerindangan buat para pengguna ruas jalan. Sementara itu, para pengendara yang melintas di jalanan yang sempit itu santai-santai saja menginjak pedal gasnya.

Buat para wisatawan Nusantara, Bandung identik dengan factory outlet (FO). Tapi, buat para pemburu barang murah, belakangan ini banyak bermunculan gerai barang bekas. Jangan membayangkan Anda membeli barang bekas dari pedagang kaki lima di pinggir jalan atau di lapak-lapak lusuh, berdesak-desakan, dan panas seperti di pasar Tanahabang.

Sama seperti butik FO, gerai-gerai barang bekas ini pun ditata menarik, lengkap dengan pramuniaga. Tertempel jelas harga pas pada barang jualan, sehingga tak perlu tawar-menawar. Dan, kasir di gerai ber-AC ini menerima pembayaran dengan kartu debet maupun kartu kredit. Tak percaya? Coba saja datangi gerai Barang Bekas (Babe), Old & New, Barang Titipan Anda (Batian), Barang Second (Base), maupun Barang Bekas (Rangkas).

Beragam barang tersedia di sini, mulai dari alat pancing, sepeda, boks bayi, raket, mixer, jam tangan, sepatu, dan setrika. Di antara barang-barang bekas itu, banyak yang tampak mulus tanpa cacat. Jadi, kalau pandai-pandai memilih plus kebetulan sedang beruntung, pengunjung bisa membeli barang yang didamba dengan kondisi yang bagus dan harga yang murah.

Modalnya hanya ruang kosong

Seperti Maman Suryaman yang siang itu singgah di gerai Babe, Jalan Riau. Tangannya sudah menjinjing gitar listrik untuk sang cucu seharga Rp 750.000. Pensiunan guru ini sudah lebih dari 20 menit mengamati tiga unit coffee maker yang terpajang rapi di pojok etalase. Ia juga hendak membeli satu di antara coffee maker itu untuk mengganti barang sejenis yang rusak di rumah. “Barangnya bagus, harganya murah,” ujarnya dengan logat Sunda yang kental. Buru-buru ia menuju kasir dan membungkus coffee maker berwarna cokelat seharga Rp 125.000.

Hal serupa juga dijumpai di gerai Old & New yang letaknya sekitar 500 meter dari Babe. Lidya Winarti, mahasiswa sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta ini, tengah menimang-nimang buku Di Bawah Bendera Revolusi karya Soekarno. Di pasar buku bekas, buku ini bisa dibawa pulang dengan harga sekitar Rp 500.000. Tapi, di gerai Old & New, Lidya bisa mendapatkan 60% lebih murah, yaitu Rp 200.000. “Kalau beruntung, kadang bisa dapat barang yang murah seperti ini,” pamer Lidya.

Di Jalan Karapitan, ada pula gerai Base, Rangkas, dan cabang lain Babe. Di Jalan Otista atau kawasan Tegalega, gerai Batian juga melayani penjualan barang bekas. Di tempat inilah barang-barang sisa ekspor dan barang bekas “naik kelas”. Jika ogah menyambangi pasar loak yang hiruk-pikuk dan bikin gerah, gerai barang bekas ini bisa menjadi pilihan.

Yang menarik, kendati melabeli gerai-gerainya sebagai gerai barang bekas, namun 65% barang yang dijual justru barang anyar yang merupakan sisa ekspor dari gudang pabrik. Baru sisanya yang 35% adalah sungguh-sungguh barang bekas yang dipasok dari gudang rumah tangga. “Jadi, modal pemilik gerai hanya ruangan,” ujar seorang pengelola gerai barang bekas yang ingin namanya dirahasiakan. Konon, rumah yang disewa si pemilik gerai untuk usaha barang bekas bisa mencapai ratusan juta rupiah. Tapi, menurut sumber KONTAN tadi, jika pemilik gerai barang bekas menggenjot dengan agresif, modal yang tidak kecil ini akan kembali dalam setahun.

Walau hanya barang bekas, jangan anggap remeh potensi keuntungannya. Laba gerai ini umumnya diperoleh dari menyunat setiap barang yang laku terjual sebesar 10%. Jadi, misalnya piringan emas Rolling Stones terjual Rp 1,3 juta di gerai Babe, maka Rp 130.000 merupakan keuntungan yang bisa dikantongi Babe. Saat hari kerja gerai barang bekas mampu menjual barang sedikitnya senilai Rp 4 juta setiap hari. “Kalau hari libur, bisa menjual minimal Rp 15 juta dalam sehari,” ujar sumber KONTAN.

Ada yang iseng, ada yang berbisnis

Siapa pun sebenarnya boleh menitipkan barang bekas dan barang sisa ekspornya di gerai-gerai barang bekas di Bandung. Bila dihitung-hitung asal barang yang dijajakan di sini, sekitar 60% barang berasal dari pemilik barang bekas yang menitipkan barangnya sebagai ajang bisnis, 20% barang bekas berasal dari pemilik yang membutuhkan fresh money dengan cepat, dan 20% sisanya berasal dari pemilik barang bekas yang menitipkan barangnya di gerai barang bekas hanya sekadar untuk iseng saja.

“Menitipkan barang elektronik cukup menguntungkan,” ujar Asep Suhendar. Lelaki setengah baya yang sehari-harinya bekerja sebagai guru SD dan SMP di Padalarang ini setiap bulan tak pernah absen meloak satu unit barang elektroniknya. Biasanya, barang elektronik yang paling sering ia lego ialah mini compo. “Di gerai mana pun, yang penting laku,” ujarnya sambil terkekeh. Tak kurang dari 20 barang sudah ia lepas di gerai barang bekas, termasuk kompresor dan akuarium yang selama ini teronggok di gudang rumahnya.

Tak hanya Asep yang menjajal peruntungan lewat barang elektronik bekas. Soeryono, pensiunan pegawai bank di Bandung, melakukan hal yang sama. “Daripada mubazir dibuang, dijual saja,” papar Soeryono. Tiga tahun belakangan ini, ia terbilang rajin menyuplai amplifier, mini compo, maupun speaker bekas miliknya ke gerai barang bekas. Ia juga pernah melego satu termos makan siang (lunch box) miliknya, dan dilepas seharga Rp 75.000.

Baik Asep maupun Soeryono merupakan tipe pemilik barang bekas yang sekadar iseng menitipkan barangnya di gerai barang bekas. Saat bosan dengan barang-barang di rumah, mereka tak segan mengangkutnya ke gerai barang bekas. Bahkan mereka tak segan untuk berburu, mencari barang bekas di pasar loak biasa, membeli barang yang disukai, memakainya sebentar dan menjualnya kembali ke gerai barang bekas. Sebagai contoh, amplifier yang diangkut Soeryono ke Babe adalah hasil perburuannya di pasar loak tradisional. Harga belinya Rp 75.000. Saat ia melempar amplifier itu ke Babe, ia berhasil mengantongi tak kurang Rp 225.000. “Lumayan, untung 200%,” ujar Soeryono senang.

Jurus yang sama juga dilakukan oleh Asep. Mini compo yang diburunya di pasar Taman Puring Jakarta senilai Rp 1 juta, laku terjual di Old & New seharga Rp 1,3 juta.
+++++

Ongkos Titip hanya Goceng

Lantaran 65% barang yang dipajang di gerai barang bekas adalah barang sisa ekspor, beberapa gerai memiliki cara untuk membedakan antara barang bekas dan barang sisa ekspor. Old & New melabeli barang bekas dengan label berwarna biru. Sebaliknya, untuk barang sisa ekspor, labelnya berwarna merah.

Di Rangkas, yang masih “bersaudara” dengan Base, barang bekas yang paling sering diburu pembeli adalah sepatu bekas namun asli atawa branded. “Banyak yang cari sepatu bekas tapi asli,” ujar si penjaga toko di Rangkas. Untuk membedakan sepatu bekas asli dengan sepatu sisa ekspor, gerai ini meletakkan di rak yang berbeda. Untuk sepatu bekas asli, gerai ini menyimpan di bagian dalam toko. Sedangkan sepatu sisa ekspor yang masih terbilang baru diletakkan di bagian tengah gerai.

Barang bekas yang langka ternyata banyak diincar pembeli. “Pembeli sering menanyakan stik biliar dan ring basket,” ujar karyawan Old & New. Sayangnya, jarang orang yang menitipkan stik biliar atau ring basket bekas di gerai. Tak heran, kurang dari 24 jam, barang-barang ini sudah diboyong pembeli. “Kadang si penitip sengaja membuat langka, dengan cara menitipkan satu per satu barang bekasnya,” imbuh si karyawan. Dengan demikian, setinggi apa pun harga barang bekas itu tetap menjadi buruan pembeli.

Di Old & New, harga tempat tidur lipat Rp 300.000, adaptor Rp 40.000-Rp 95.000, satu set stik golf Rp 3 juta, satu set meja bulat dengan 4 kursi Rp 855.000, dishwasher Rp 4,9 juta, kompor listrik Rp 32.000-Rp 40.000. Di Babe, gitar listrik Rp 750.000-Rp 1,5 juta, raket tenis Rp 59.000-Rp 205.000, akuarium Rp 350.000, mesin cuci Rp 700.000, sepeda Rp 300.000-Rp 950.000 dan tas Esprit Rp 75.000. Di Base, setrika Rp 19.000-Rp 59.000, kipas angin Rp 60.000, mixer Rp 75.000, jam tangan Rp 40.000-Rp 200.000.

Bila ingin menitipkan barang untuk dijual di gerai-gerai ini, caranya tidaklah sulit. Cukup tinggalkan fotokopi KTP dan membayar uang administrasi sebesar Rp 5.000 per barang untuk jangka waktu penitipan satu bulan. Tarif ini berlaku untuk ongkos titip di Base, Rangkas, dan Old & New. Adapun Babe memasang tarif Rp 5.000 per barang untuk penitipan 20 hari, dan Batian mematok Rp 3.000 per barang untuk jangka waktu satu bulan dan memasang tarif Rp 5.000-Rp 10.000 per barang untuk jangka waktu penitipan sebulan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: