Menyulap Sampah Jadi Kompos

Oktober 2, 2007

Ribut-ribut antara pemda DKI dengan Bekasi soal Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Bantar Gebang, Bekasi sejak awal November 2001, menimbulkan kekhawatiran masyarakat Jakarta. Kekhawatiran itu memang beralasan, sebab jika saja masalah ini tidak segera terselesaikan, sampah dari Jakarta bisa jadi akan kesulitan mendapatkan tempat pembuangan akhir. Bila itu terjadi, sampah-sampah di pemukiman akan menumpuk tak tahu ke mana harus dibuang. Tentu saja ketidaknyamanan itu harus diantisipasi. Bila warga yang berada dalam satu unit pemukiman bersatu, mencari jalan keluar, bisa jadi sebagian masalah akan terselesaikan. Satu usulan yang layak untuk dipikirkan adalah membuat kompos dari sampah organik. Sampah yang berasal dari rumah tangga yang berada dalam satu RT atau RW dikumpulkan di satu tempat untuk segera diproses lebih lanjut sampah organiknya. Sementara sampah an organik mungkin belum jadi masalah karena ada pasukan pemulung yang siap menadahnya setiap hari.

Tahapan pertama pembuatan kompos adalah dengan menghancurkan sampah organik, yang biasanya terdiri dari daun-daunan, ranting, rumput, dan sisa makanan. Cara penghancurannya bisa menggunakan golok atau benda tajam lainnya. Tapi ini tidak mudah dan makan waktu. Cara yang lebih baik adalah menggunakan mesin penghancur sampah yang banyak beredar di pasaran. Ada beberapa jenis yang beredar di pasaran, yakni yang kapasitasnya 150 kg perjam harganya Ro 5 juta, 300 kg perjam harganya Rp6,5 juta, 300 kg perjam harganya Rp 10 juta dan 1 ton harganya Rp 17 juta Mesin dengan kapasitas mana yang akan dipilih tentu sangat tergantung pada kemampuan ekonomi Anda dan jumlah sampah yang ada di unit pemukiman tersebut.

Setelah sampah itu hancur kemudian dikumpulkan di satu tempat untuk diproses lebih lanjut. Hancuran sampah tadi dicampur dengan kapur dan pupuk kandang. Pupuk kandang tidak perlu banyak-banyak karena hanya berfungsi sebagai “bibit” mikroba.-mikroba pengurai yang nanti bertugas menghancurkan bahan kompos. Setelah dicampur dengan baik dengan jalan diadukaduk, tumpukan itu kemudian ditutup dengan plastik. Jika bahan terlalu kering bisa disiram dengan air sampai bahan agak basah dan lembab.

Jika proses pengomposan berjalan dengan baik, suhu akan meningkat menjadi 45 derajat celsius.Pada bulan pertama, kedua dan ketiga perlu dilakukan pembalikan dan pengadukan bahan kompos. Setelah berjalan tiga bulan bahan sampah itu sudah berubah menjadi kompos. Volumenya akan menyusut tinggal sepertiganya. Jika agak basah dibiarkan dulu diangin-anginkan di terik matahari hingga kadar airnya tinggal sekitar 50%. Setelah jadi kompos dengan tekstur halus dan warna kehitaman, bahan tadi dikemas dalam kantung plastik agar mudah di bawa ke mana saja. Kompos ini bisa digunakan sebagai pengisi pot atau sebagai pupuk organik yang dapat memperbaiki sifat tanah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: