Menjinakkan Limbah Berbahaya

Oktober 2, 2007

Limbah B3 pun ternyata masih bisa menghasilkan uang. Limbah cairan cuci cetak film (fixer), bila bisa memprosesnya, masih bisa menghasilkan perak murni. Selain fixer, limbah negatif film pun bisa diolah hingga menghasilkan perak. Cuma persoalannya, untuk bisa mengolahnya, memang memerlukan pengetahuan proses kimia yang memadai. Maklum proses ini melibatkan bahan-bahan kimia yang berbahaya dan beracun. Adalah Soeyanto, warga Surabaya, yang telah 20 tahun menekuni bisnis ini. Awalnya, sebagaimana dikisahkan tabloid Kontan, Soeyanto belajar dari seorang temannya bernama Suko. Setelah merasa bisa, mulailah ia merintis usaha sendiri. Ketika memulai usaha itu, dia memperoleh fixer secara gratisan, karena bahan ini memang menjadi persoalan bagi pengusaha cuci cetak film. Dibuang sembarangan bisa membahayakan lingkungan, dan mereka tidak harus diapakan. Meski sudah berbekal pengetahuan dari temannya, Soeyanto masih juga melakukan berbagai percobaan untuk mendapatkan metode pengolahan limbah yang tepat, yakni yang: efisien, sekaligus tidak membahayakan bagi diri dan lingkungannya.

Proses pengolahan dari negatif film yang berasal dari percetakan untuk diambil peraknya, dimulai dengan membakar negatif itu hingga jadi abu. Soeyanto menggunakan drum berlobang untuk membakar film itu. Kemudian abunya dimasak dengan asam nitrat (HNO3) untuk memisahkan karbonnya. Satu kuintal abu film memerlukan HNO3 sebanyak 2,5 liter. Pemasakan berlangsung selama 2 jam terus disaring. Selanjutnya yang diproses justru cairan hasil saringannya, bukan ampasnya.

Cairan itu diendapkan dengan asam klorida (HCl), sehingga menghasilkan endapan lumpur putih bernama perak nitra (Ag NO3). Lalu ditambahkan larutan seng (Zn) pada perak nitrat itu sehingganitrat akan bereaksi dengan seng sehingga menguap. Tinggallah perak murni yang siap diolah lagi.

Pengolahan fixer sedikit berbeda. Cairan fixet itu diendapkan terlebih dahulu dengan asam belerang. Endapannya disaring dengan kain kemudian cairan lumpurnya dibakar. Setelah cair ditambahkan seng untuk memisahkan natrium datri peraknya. Seng dan natrium mengambang di atas dan peraknya di bawah. Setelah dingin lumpur dimasukkan ke air agar pecah. Sampai di sini belum diperoleh perak murni. Lumpur tadi masih harus dibersihkan dengan boras dan direndam air sehingga menghasilkna butir-butir perak yang menyendiri. Perak yang dihasilkan Soeyanto ini ternyata lebih bagus.

Untuk bahan baku, Soeyanto membeli film dengan harga Rp 10.000 per kuintal. Sedangkan harga fixer lebih bervariasi, tergantung penjualnya. Kisarannya mulai dari Rp 2.500 sampai Rp 25.000 per liter. Dari satu kuintal negartif film bisa dihasikan 1 kg perak murni. Sedangkan dari fixer, untuk memperoleh 1 kg perak, paling tidak dibutuhkan 50 liter fixer. Dalam satu bulan rata-rata Soeyanto menghasilkan 8 kg perak dari fixer dan 6 kg perak dari film, sehingga total dia menghasilkan 14 kg perak. Bila harga perak Rp1.400 per gram maka dalam sebulan Soeyanto memperoleh penghasilan kotor sebesar hampir Rp 20 juta. Tentu saja angka itu harus dikurangi dengan pembelian bahan baku dan bahan pemroses yang juga tak kalah mahalnya.

Begitulah Soeyanto yang mahir bermain dengan limbah berbahaya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: