Mengurangi Tumpukan Rongsokan

Oktober 2, 2007

Produk-produk elektronik semakin mendominasi kehidupan kita. Mulai dari komputer, televisi, perangkat audio, setrikaan sampai ponsel. Setelah sekian tahun digunakan, barang-barang elektronik itu akan rusak dan akhirnya menjadi rongsokan. Di negara-negara maju, tumpukan rongsokan benda-benda elektronik ini menjadi masalah besar di tempat pembuangan sampah. Maklum sejumlah komponen memang mengandung zat berbahaya untuk lingkungan seperti timah, merkuri, arsenik, dan kadmium. Racun-racun ini bukanlah masalah ketika konsumen menggunakan produk-produk tersebut, namun zat-zat itu barulah menjadi masalah buat lingkungan manakala dibuang bersama sampah rumah tangga lainnya.

Monitor komputer dan televisi misalnya, sangat berbahaya karena mengandung timah dalam jumlah yang cukup berarti. Sedangkan papan sirkuit elektronik juga mengandung logam-logam yang berbahaya seperti timah, kromium, merkuri dengan jumlah bervariasi, tergantung papan sirkuitnya. Begitu pula dengan baterei, benda ini juga mengandung merkuri, kadmium dan timah. Dari hari ke hari jumlah rongsokan itu terus bertambah, dan menimbulkan masalah bagi lingkungan.

Karena itulah sejumlah LSM di negara-negara maju yang peduli pada lingkungan mengusulkan sejumlah jalan keluar untuk mengurangi tumpukan rongsokan itu. Usulan itu antara lain: 1. Dalam hal penyediaan barang elektronik, pilihlah sistem leasing ketimbang membeli. Sehingga ketika barang itu out of date bisa dikembalikan ke vendor. Di tangan vendor pengelolaan barang bekas akan jauh lebih baik. 2. Hindari produk-produk praktis. Sejumlah peralatan tradisional dalam versi elektronik biasanya susah ditingkatkan keandalannya, lebih mahal pengoperasiannya dan lebih cepat aus. Ketika membeli produk tersebut, perhatikan masa pakainya. 3. Jika barang Anda rusak perbaiki dulu dan jangan buru-buru mengganti. Memperbaiki peralatan umumnya lebih murah ketimbang mengganti sama sekali. 4. Beli peralatan yang bisa diupgrade. Sejumlah peralatan bisa diupgrade dengan mengganti satu dua komponen. Langkah ini akan menghemat biaya dan mengurangi beban di tempat sampah. 5. Cari tahu apakah pabrik dari peralatan Anda bersedia membeli kembali peralatan Anda yang sudah tidak terpakai mankla Anda membeli yang baru. Manfaatkan fasilitas ini untuk mengurangi beban limbah. 6. Jika tak ada pilihan lain dan harus membuang peralatan Anda, serahkan pada pendaur ulang professional.

Sebagian usulan di atas memang tipikal untuk negara maju. Usulan ke 3 dan ke 4 misalnya sudah jamak dilakukan di Indonesia. Namun alasannya bukan untuk mengurangi beban tampat sampah tetapi lebih pada alasan ekonomis. Maka di Indonesia berkembang bengkel radiator, knalpot, per, aki dll. Jika di negara maju mobil yang radiatornya rusak harus ganti radiator, maka di Indonesia radiator itu masih bisa diakali untuk bisa berfungsi.

Untuk urusan memperbaiki barang rusak dan memanfaatkan rongsokan boleh jadi Indonesia “lebih maju” ketimbang negara-negara maju. Hanya persoalannya ketika harus menangani komponen yang memang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi, Indonesia memang kedodoran. Teknologi untuk menangani zat-zat berbahaya belum banyak dikembangkan, dan juga aturan main dalam hal pembuangan sampah benda-benda yang mengandung zat-zat berbahaya pun belum siap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: