Lebih Aman dengan Sistem Kupola

Oktober 2, 2007

Mendaur ulang aki bekas ternyata memberikan hasil yang cukup baik. Dengan teknologi sederhana aki itu dilebur dalam lobang yang dibuat di tanah, untuk diambil timahnya. Namun cara sederhana itu memiliki risiko yang tinggi. Debu-debu dan gas hasil pembakaran itu menyebar di udara sekitarnya, dan tentu saja dihirup langsung oleh orang-orang yang berada di sekitar tempat pembakaran berlangsung. Gas yang dilepaskannya pun tergolong dalam kategori B3 (bahan beracun dan berbahaya). Melarang begitu saja jelas tak mungkin, karena itu merupakan kegiatan ekonomi yang digeluti masyarakat kecil. Karena itulah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mencoba satu cara untuk mengatasi masalah itu, yakni dengan teknik yang disebut kupola. Sistem ini, seperti yang ditulis majalah Ozon edisi November 2000, berusaha melokalisasi asap dan panas agar tidak menyebar ke mana-mana. Asap dan panas terkumpul di dalam ruang tertutup dan nantinya dikeluarkan dengan sistem spray. Proses ini sebenarnya tidak jauh dengan sistem kuwen yang digunakan pengolah aki bekas tradisional selama ini, hanya bedanya terletak pada penanganan limbah debu dan gas yang dihasilkan dari proses peleburan aki itu.

Pada sistem kupola, proses reduksi menggunakan arang biasa yang dicampurkan dengan aki bekas yang hendak dilebur. Kemudian dilakukan pembakaran dengan kapasitas panas antara 1.000 V – 1.500 V. Karbon yang ada pada arang berfungsi untuk reaksi reduksi dari timbal (Pb). Peleburan dilakukan dalam sebuah tabung besar bekas drum. Bahan-bahan yang dipanaskan tadi mencair, lalu cairan itu dikeluarkan da dicetak menjadi timah hitam batangan.

Daur ulang aki ini bertujuan untuk mengambil logam timah hitam (Pb) dan boks plastiknya untuk digunakan kembali. Timbal itu akan diguanakan lagi oleh pabrik aki untuk bahan sel aki. Selain itu juga digunakan oleh pabrik cat, pabrik TV, keramik dan sebagai isolator radio aktif. Sedangkan daur ulang boks plastiknya bisa digunakan lagi oleh pabrik akinya sendiri atau pabrik plastik.

Memang sistem kupola hasil kajian BPPT ini lebih mahal ketimbang sistem kuwen yang biasa dilaksanakan masyarakat selama ini. Namun kupola jelas lebih aman karena tidak mencemari lingkungannya dengan gas berbahaya. Karena itu perlu sosialisasi terus menerus, dan bantuan modal untuk peralatan, agar masyarakat mau menggunakan sistem ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: