Ketimbang Dibakar Lebih Baik Dikomposkan

Oktober 2, 2007

Membuat kompos rupanya juga merupakan proyek menarik buat negara maju. Pengelola kawasan resor Sunriver yang terletak di Taman Nasional Deschutes di Oregon Amerika Serikat, ternyata lebih memilih mengkomposkan serasah semacam daun-daunan, potongan dahan dan ranting, dan semak-semak belukar, ketimbang membakarnya. Dulu memang serasah atau sampah yang berasal dari pepohonan hutan itu dibakar, namun masyarakat memprotes karena asapnya sangat mengganggu, dan pembakaran itu sendiri bila tidak dikontrol dengan baik berisiko menimbulkan kebakaran besar di Taman Nasional tersebut. Kenyataannya memang kebakaran yang cukup besar, yang memusnahkan ribuan hektar hutan di kawasan itu pernah terjadi pada tahun 2000. Karena itu Kongres Negara Bagian Oregon, seperti ditulis http://www.composting2002.org, serta merta menyetujui proposal senilai US$ 89.000 (kurang lebih sekitar Rp 880 juta) yang diajukan oleh pengelola kawasan resor Sunriver untuk mengkomposkan serasah yang dihasilkan oleh kawasan itu. Proyek itu merupakan upaya mengurangi bahan yang berpotensial untuk terbakar di kawasan itu. Jeffrey Rola, pimpinan proyek itu mengemukakan kebakaran yang pernah terjadi di Oregon tidaklah seburuk yang pernah terjadi di negara bagian lain. Namun upaya meningkatkan manajemen hutan tetap perlu ditingkatkan.
“Lebih baik mencegah kebakaran daripada harus bertarung melawan api,” katanya. Lagi pula mengkomposkan jelas lebih baik ketimbang membakar yang jelas-jelas akan menimbulkan polusi udara.

Pada tahap awal proyek ini menyiapkan 3 acre lahan sebagai kawasan uji coba pembuatan kompos. Di tahap ini sempat terjadi sedikit kesalahan teknis. Karena jarak pengolahan kompos agak jauh dari lokasi perumahan, mereka menampung dulu tumpukan sampah organik padat yang nantinya akan disatukan dengan serasah untuk dikomposkan – di dekat pemukiman. Namun akibatnya muncul bau tak sedap dari sampah organik padat yang sudah agak membusuk tadi. Protes pun berdatangan dari para penduduk di sekitarnya. “Kami tidak akan mengulangi kesalahan semacam itu,” ujar Rola.

Pengkomposan itu mulai dilakukan Juni 2001. Serasah yang terdiri atas dedaunan dan ranting kayu itu dihancurkan dengan mesin penghancur sampah berukuran besar. Kemudian serasah yang telah hancur tadi dicampur dengan sampah padat yang berasal dari pemukiman. Proyek itu antara lain mencari komposisi yang ideal antara sampah padat dengan hancuran serasahnya dan dengan karbon yang digunakan untuk membantu proses fermentasi. Semuanya itu dimasukkan ke dalam delapan kantung besar yang diberi lubang untuk pertukaran udara. Setelah empat bulan barulah proses pengkomposan itu dianggap selesai . Ternyata proyek itu bisa menghasilkan kompos kelas A dengan perlakuan seperti itu tadi. Kompos yang dihasilkan akan digunakan untuk memperbaiki kualitas tanah yang miskisn unsur hara di sejumlah tempat di Negara Bagian Oregon tersebut.

Barangkali pesan moralnya buat kita, mengapa kita tidak mencoba memanfaatkan semaksimal mungkin sampah yang kita miliki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: