Eceng Gondok Mendaur-Ulang Limbah

Oktober 2, 2007

Rupanya ada manfaat lain dari tanaman eceng gondok yang belum banyak diketahui orang. Tumbuhan yang lebih sering dianggap sebagai tumbuhan pengganggu kawasan perairan ini ternyata mampu menetralkan limbah rumah tangga dan industri. Bahkan manajemen PT Bali Tourism Development Cooperation (BTDC), perusahaan yang mengelola kawasan wisata Nusadua, Bali ini telah memanfaatkan eceng gondok untuk mengolah limbah cair dari hotel dan restoran di sana. Sistem kerja si eceng gondok itu sendiri sangat sederhana. Tumbuhan ini ditanam di kolam-kolam daur ulang seluas 15 hektare. Selebihnya biarkan saja, eceng gondok akan bekerja sendiri menyerap partikel-partikel polutan yang hadir bersama air limbah. Dari penelitian lama memang telah diketahui, tanaman berakar rimpang ini mampu menyerap nitrogen, fosfat dan zat organik. Bahkan juga bisa menyerap uranium dan mercirium, dua zat yang sangat berbahaya bila mencemari perairan.

Bagaimana ceritanya sampai tanaman ini menjadi pilihan BTDC untuk mengolah limbah cair di Nusadua, yang menghasikan 4.000 sampai 5.000 meterkubik air kotor per hari itu? Pada dasarnya memang BTDC butuh sistem pengolah limbah. Berbagai cara sudah dicoba namun kurang membawa hasil yang baik. Terakhir perusahaan itu bahkan ingin menerapkan satu sistem baru, namun batal karena harganya sangat mahal, yakni Rp 300-Rp 400 juta.. Sampai satu ketika, seorang staf di perusahaan itu menemukan sebuah brosur yang memperlihatkan bahwa eceng gondok sangat potensial sebagai pengolah limbah cair.

Maka pada 1996, ketika AA Gde Rai menjadi direktur di sana, dicobalah eceng gondok ini sebagai pengolah limbah. Bekerjasama dengan peneliti lingkungan dari Universitas Udayana digelarlah proyek itu. Hasilnya sungguh memuaskan. Seperti pernah ditulis Tempo, kadar biological oxygen demand (BOD) dan chemical oxygen demand (COD) — dua parameter yang biasa dipakai untuk mengukur kadar polutan satu cairan – menurun tajam. BOD yang semula bertengger pada angka 42 – padahal batas ambang berbahayanya 30 – turun menjadi 13 sampai 25. Sedang COD dari angka 80 turun menjadi 24 hingga 30. Derajad keasaman air (pH) menjadi 7-8, yang berarti normal.

` Sebagai bukti bahwa air yang disaring eceng gondok itu sudah sehat, di perairan itu kini telah berkembang aneka satwa air seperti ikan, katak dan kepiting. Kawasan itu juga menjadi daerah persinggahan burung-burung yang hendak bermigrasi dari Australia. Untuk keberhasilan itulah, BTDC pada tahun 1999 menerima penghargaan Kalkpataru dari pemerintah.
Namun bukan berati tidak ada masalah sama sekali. Eceng gondok ini tidak bisa dibiarkan begitu saja tumbuh bebas. Setiap dua bulan eceng gondok itu harus diremajakan. Karena kalau terlalu tua kemampuan menyerap polutan berkurang, sehingga kualitas air yang disaringnya pun menurun. Tapi bagi perusahaan sebesar BTDC tentu tak terlalu mengatasi soal itu. Apalagi kalau jeli, cukup banyak manfaat bisa diperoleh dari tanaman yang hendak diremajakan tadi. Bisa untuk kompos, bahkan daunnya bisa untuk berbagai jenis kerajinan, seperti yang pernah ditulis di daurulang.com beberapa waktu lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: