Dari Rawa Kucing untuk Sibolga

Oktober 2, 2007

Satu lagi bukti bahwa pasar kompos memang sangat menarik. Setelah tulisan di daurulang.com beberapa waktu lalu mengungkap tentang peluang di Jabotabek yang masih sangat terbuka, kini kompos malah bisa di”ekspor” ke luar daerah Jabotabek. Berita di sejumlah media pekan ini memberitakan, 90 ton kompos yang diproduksi di TPA Rawa Kucing. Kota Tangerang dikirim ke Sibolga, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Senin, 18 Maret 2002. Kompos yang diolah dari sampah organik warga Tangerang ini akan digunakan untuk memupuk kebun sayur mayur di Tapanuli Tengah. Seperti dikemukakan Abdullah Karim Pohan, direktur utama PT Bina Bumi Fansyuri, perusahaan asal Jakarta yang bekerja sama dengan Kabupaten Tapanuli Tengah, telah dua kali musim tanam ini, kompos digunakan di sana. Dari hasil uji coba yang pernah dilaksanakan di sana, kompos memang belum terbukti secara signifikan meningkatkan produktivitas tanaman sayur mayur di sana. Namun yang jelas sudah terasakan adalah tetap terjaganya kesuburan tanah di kawasan itu. Dengan memakai kompos, penggunaannya akan tetap dari satu musim ke musim lainnya. Sedangkan kalau memakai pupuk pabrik jumlah pemakaiannya cenderung meningkat untuk memperoleh kesuburan yang sama.

Kompos dari Rawa Kucing ini selain dikirim ke Sibolga juga telah biasa digunakan oleh para petani di Cianjur dan Tangerang sendiri. TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Rawa Kucing sendiri sangat potensial untuk pengembanga industri kompos, maklum sekitar 70% sampah di sana masih didominasi sampah organik yang layak dijadikan bahan baku kompos. Namun sejauh ini baru 5% yang diolah menjadi kompos. Nah melihat potensi bahannya yang masih bejibun, dan potensi pasarnya yang masih terbuka, apakah Anda tidak tertarik terjun ke bisnis ini.

Teknologi untuk membuat kompos tidaklah sulit, hanya memerlukan ketekunan yang tinggi. Tahapan pertama pembuatan kompos adalah dengan menghancurkan sampah organik, yang biasanya terdiri dari daun-daunan, ranting, rumput, dan sisa makanan. Cara penghancurannya supaya lebih cepat, menggunakan mesin penghancur sampah yang banyak beredar di pasaran. Ada beberapa jenis yang beredar di pasaran, yakni yang kapasitasnya 150 kg perjam harganya Ro 5 juta, 300 kg perjam harganya Rp6,5 juta, 300 kg perjam harganya Rp 10 juta dan 1 ton harganya Rp 17 juta Mesin dengan kapasitas mana yang akan dipilih tentu sangat tergantung pada kemampuan ekonomi Anda.

Setelah sampah itu hancur kemudian dikumpulkan di satu tempat untuk diproses lebih lanjut. Hancuran sampah tadi dicampur dengan kapur dan pupuk kandang. Pupuk kandang tidak perlu banyak-banyak karena hanya berfungsi sebagai “bibit” mikroba.-mikroba pengurai yang nanti bertugas menghancurkan bahan kompos. Setelah dicampur dengan baik dengan jalan diadukaduk, tumpukan itu kemudian ditutup dengan plastik. Jika bahan terlalu kering bisa disiram dengan air sampai bahan agak basah dan lembab.

Jika proses pengomposan berjalan dengan baik, suhu akan meningkat menjadi 45 derajat celsius.Pada bulan pertama, kedua dan ketiga perlu dilakukan pembalikan dan pengadukan bahan kompos. Setelah berjalan tiga bulan bahan sampah itu sudah berubah menjadi kompos. Volumenya akan menyusut tinggal sepertiganya. Jika agak basah dibiarkan dulu diangin-anginkan di terik matahari hingga kadar airnya tinggal sekitar 50%. Setelah jadi kompos dengan tekstur halus dan warna kehitaman, bahan tadi dikemas dalam kantung plastik agar mudah di bawa ke mana saja. Kompos ini bisa digunakan sebagai pengisi pot atau sebagai pupuk organik yang dapat memperbaiki sifat tanah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: