PROTES kenapa saya dilahirkan di negeri ini….

September 30, 2007

Beberapa saat lalu, saya baru saja selesai menyaksikan acara spesial Ramadhan Khazanah Reliji Nusantara di Metro TV. Selain dua host yaitu Ratih Sanggarwati dan siapa itu, saya lupa, episode Jum’at ini, juga menghadirkan tokoh betawi – Ridwan Saidi.

Sesuai dengan tema dan tamu yang ada, acara ini tentu saja membahas tentang afiliasi budaya betawi dengan Islam. Bagaimana warna Islam di Indonesia, segala pengaruhnya dan keunikannya. Karena walau bagaimana, TERNYATA kita tidak bisa membawa memaksa warna yang sama pada kanvas yang berbeda.

Saya jarang bisa memfokuskan diri pada acara berformat talkshow dengan pembicaraan serius seperti ini sebenarnya. Tapi kali ini, saya terpesona. Si bapak, Ridwan Saidi, begitu mendalami budayanya, memahami kenapa harus begitu tanpa terjebak dalam konteks pokoknya ini budaya saya. Beliau begitu mengenal segala tetek bengek keunikan, hingga unsur terkecil lainnya dalam budaya betawi.

Misalnya saja, tradisi roti buaya saat perkawinan betawi, ternyata berasal dari dari legenda adanya sepasang buaya yang selalu menjaga setiap pertemuan kali atau sungai. Dengan roti buaya, diharapkan pasangan pengantin akan selalu serasi seperti pertemuan dua sungai, peduli banjir atau kemarau, pertemuan sungai akan selalu ada, iya kan?

Atau juga tradisi membakar petasan saat ada acara keramaian seperti perkawinan, selamatan, menyambut orang datang haji, atau pesta lainnya. Kita, anak-anak modern mungkin menilainya sebagai perlambangan sifat takabur, membuang uang, dan pandangan khas orang modern lainnya.

Ternyata, menurut Pak Ridwan Saidi, tradisi membakar petasan saat mengadakan acara di betawi dimulai pada suatu masa, ada perayaan pernikahan besar. Namun si tuan tumah lupa mengundang salah seorang tokoh paling disegani di kampungnya. Kejadian ini membuat suasana kampung tidak kondusif dan ada friksi ketersinggungan antar kedua belah pihak. Sejak kejadian ini, maka setiap ada pesta dibakarlah petasan sebagai tanda seluruh orang yang mendengar bunyinya berarti diundang ke perayaan tersebut.

Luhur sekali bukan? Sebuah tradisi yang berdasarkan pada keinginan untuk menghindari masalah.

Tapi saya bukan ingin membahas tentang budaya betawi. kita serahkan saja pada Pak Ridwan Saidi ini.

Saya hanya ingin mendeklarasikan perubahan mindset saya.

Saya, jujur saja, adalah orang yang memandang remeh budaya lokal. Lokal banjar maupun Indonesia. Saya cenderung kecewa dengan oknum pelaku yang mengaku budayawan namun selalu mengeluhkan kesulitan dana kepada pejabat korup. Dana didapat, festival budaya tak kunjung terlaksana.

Saya juga kerap marah, protes kenapa saya dilahirkan di negeri ini. Negeri dengan sejuta lupa, sejuta kebohongan, sejuta permakluman, sejuta kesalahan.

Namun saya ternyata lupa (tuh kan, lupa, orang indonesia seh!), Bukan budayanya yang salah, bukan tanah yang saya injak, bukan udara yang saya masukkan ke paru-paru saya, bukan air yang saya minum, tapi manusianya.

Saya yang salah.

Saya tidak memahami KENAPA. Saya hanya melihat APA, SIAPA dan BAGAIMANA.

Saya dengan ini berjanji, akan mencoba lagi memahami budaya negeri saya ini. Belajar mencintainya, dan seperti semua pencinta, saya akan melindunginya dengan segenap kemampuan saya.
– repost dari manusiasuper

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: