Kapan Sih Kamu Percaya Sama Saya? (Cepat Berasumsi vs Kurang Mendengar)

September 30, 2007

“Kapan sih kamu percaya sama saya? Kesal, muak, dan benci saya dicemburui terus,” demikian L (32), seorang suami yang punya usaha rumahan dengan kemarahan tidak terkendali sambil langsung keluar dari rumah.

“Saya bukan cemburu, tetapi saya kurang enak perasaan karena perempuan, tenaga sales, itu lebih banyak bekeja di rumah daripada mencari order. Yang namanya sales, tugasnya, kan, di luar, bukan bantu kerja kamu di rumah,” demikian S (27), istri L.

“Ah, pastilah kamu cemburu! Capai saya dicemburui. Sudah cerai saja kalau terus-menerus enggak percaya.” sambung si suami berteriak keras sambil mengegas mobilnya keluar halaman dengan deru keras karena kecepatan lari mobil serentak sangat tinggi.

“Kalau sudah marah seperti itu, suami saya akan mendiamkan saya beberapa hari, dan baru akan berbaikan lagi kalau saya terus mengajak bicara, berulang kali meminta maaf sambil melayani kebutuhan sehari-harinya dengan cara ekstra baik,” demikian keluh S sambil berlinang air mata. “Ibu, saya tidak mau cerai lagi. Bagaimana saya harus bersikap kepada suami saya, Bu”  lanjut S.

Usia perkawinan L dan S baru satu setengah tahun. Untuk L, perkawinan ini adalah perkawinan pertama, sedangkan untuk S perkawinan dengan L adalah perkawinan kedua. Perkawinan pertama S diakhiri dengan perceraian karena mantan suaminya berselingkuh dengan sekretarisnya.

Pengalaman perselingkuhan suami dengan sekretarisnya merupakan trauma psikis yang masih terasa sangat melukai perasaan S. Dalam hati kecil S memang bertekad akan berupaya semaksimal mungkin mempertahankan perkawinan kedua dan berupaya keras untuk mencegah terjadinya perselingkuhan dalam perkawinan keduanya ini.

Memang, S mengakui bahwa beberapa waktu terdahulu pertengkaran dengan L sering terjadi karena S cemburu oleh peristiwa-peristiwa yang dirasa L kurang relevan. Misalnya, bila di suatu restoran tempat mereka memutuskan makan malam ada perempuan, tamu restoran lain, berpakaian mini yang tanpa sengaja dilihat L, S akan marah sehingga suasana makan malam menjadi rusak. Padahal, kehadiran tamu restoran bukan berada di bawah kendali L.

Pertengkaran-pertengkaran seperti itu membuat L berpendapat S adalah istri pencemburu berat. Selama ini L berupaya keras menghindari pertengkaran dengan lebih selektif dalam
berkawan. Pilihan atas perempuan bagian pemasaran tersebut pun dengan pertimbangan bahwa tenaga tersebut bersuami dan suaminya ikut bekerja dalam perusahaan L. Selain itu, penampilan fisik dan cara berdandannya pun “di bawah standar” L dan S. Artinya, tidak mungkinlah L tertarik kepada perempuan sales tersebut.

Komunikasi dalam Perkawinan

Dua orang individu yang memasuki perkawinan dan mulai berbagi kehidupan yang berawal serta dilandasi perbedaan di antara keduanya, baik dalam aspek psikologi, sosial, maupun budaya, yang kemudian berpadu dalam cara tertentu, akan membuat perkawinan yang tercipta menjadi unik.

Keunikan masing-masing individu pasangan dibentuk dan dipengaruhi faktor genetik, fisiologis, psikologis, sosial, dan budaya yang dibawa sejak lahir. Karena itu, dapat dibayangkan sulitnya dua perbedaan yang mendasar tersebut dapat berpadu dan menyatu dalam keharmonisan perkawinan yang mereka jalin.

Sulit ditemukan cara yang membuat perasaan, isi pikiran, pendapat, dan gagasan untuk terakomodasi, yang terasa adil bagi keduanya dalam harmoni relasi yang tercipta. Keterampilan dan kemampuan kedua pasangan dalam mengekspresikan perasaan, ide, gagasan, isi pikiran, serta mendengar aktif merupakan inti dari proses komunikasi yang sangat dibutuhkan sebagai sarana bagi terpadunya perbedaan-perbedaan di antara pasangan dalam harmoni relasi perkawinan mereka. Dalam hal ini Montgomery (1981) menyatakan “quality communication is central to quality marriage”

Apabila kedua pasangan puas dengan relasinya, maka mereka pun akan dengan sendirinya lebih mampu menerima pesan yang terungkap dalam komunikasi dengan pasangannya. Elemen yang sangat penting dalam komunikasi yang baik antarpasangan perkawinan adalah kepercayaan, kejujuran, empati, dan mendengar aktif.

Kepercayaan yang sudah dipelajari individu dari pengalaman masa lalu menyertakan kemampuan saling memberi dukungan yang lebih daripada minat kepada diri sendiri. Kejujuran membantu cara berkomunikasi yang perlu diimbangi oleh kepekaan perasaan. Empati, kemampuan untuk mengidentifikasikan kondisi emosi pasangan. Mendengar aktif, tidak hanya menyediakan waktu cukup untuk mendengar ungkapan pasangan, tetapi juga menyertakan konsentrasi terhadap apa yang disampaikan pasangan. Di samping itu, bila diperlukan, ia pun mampu memberikan umpan balik tentang apa yang telah dikatakan pasangan.

Kasus komunikasi yang terganggu tampak jelas pada pasangan perkawinan L dan S. Dalam masalah yang terkait dengan kehadiran perempuan bagian pemasaran, tersirat kecenderungan L untuk cepat berasumsi bahwa S cemburu kepada perempuan tersebut. Percepatan asumsi merangsang kemarahan tidak terkendali dan L.

Memang, dalam hal ini tersirat ketidakpercayaan S terhadap L oleh trauma perselingkuhan mantan suami yang belum lepas dari benak S. Terungkap perasaan yang tidak nyaman akan kebersamaan suami dengan perempuan bagian pemasaran tersebut dalam menyelesaikan kemasan hasil produksi. Namun, dalam hal ini, kecuali kepekaan perasaan L kurang terhadap ketidaknyamanan akibat kebersamaannya dengan perempuan tersebut bagi istrinya. Kemarahan L yang meledak tanpa kendali bisa disebabkan oleh keterampilan mendengar aktif L yang sangat terbatas.

Hal yang sebelumnya juga ingin dikomunikasikan S adalah perempuan bagian pemasaran itu adalah pekerja pemasaran yang sangat baik. Jadi, ini akan lebih menguntungkan apabila L memerintahkan pegawai tersebut mencari pesanan bagi produksi sampingan perusahaan daripada membantu mengemas hasil produksi utama.

Solusi

1. Bagi S, diperlukan terapi khusus untuk menghilangkan trauma psikis perselingkuhan mantan suaminya.
2. Kepercayaan di antara pasangan perlu dibangun dengan kesediaan kedua pasangan untuk menjalin relasi yang jujur dalam berbagi dan saling mendukung.
3. Bagi kedua pasangan, diperlukan latihan dalam keterampilan berkomunikasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: