Berkunjung ke Rumah Komunitas Pemulung

September 30, 2007

Kawasan tempat tinggal pemulung yang saya kunjungi terdiri dari 7 rumah — yang lebih tepat disebut gubuk — tak jauh dari BTN Asal Mula Tamalanrea. Dinding dan atapnya terbuat dari bahan-bahan bekas hasil memulung. Rumahnya sempit, kira-kira 5 x 4 meter saja. Sekilas, kondisi rumah mereka sangat memprihatinkan. Rasa-rasanya tidak layak huni. Atap sengnya sudah karatan dengan lubang di sana sini. Bahkan salah satu rumah di antaranya menggunakan atap dari baliho besar yang tebal, yang tidak tembus panas dan air. Dinding rumah mereka adalah karton, karung serta spanduk bekas. Ada satu rumah yang dindingnya terbuat dari bambu yang dicat dengan perpaduan warna yang kelihatan indah.

Di depan dan samping jejeran rumah itu tampak tumpukan sampah yang menggunung. Itulah plastik, kertas, botol, karton, besi, dan sampah lainnya yang dipulung sehari-hari oleh para penghuni rumah.

Tapi saat saya menengok isi rumah para pemulung itu, tampaklah barang-barang elektronik seperti TV dan VCD player. Bahkan ada di antara pemulung ini yang mempunyai motor baru dengan cicilan Rp300.000,- per bulan. Dari mana fasilitas ini mereka dapatkan? Apakah uang hasil jerih payah memulung bisa diandalkan membeli perlengkapan mahal itu?

Nali, salah seorang pemulung menjawab lugas, ”Barang-barang ini asalnya dari bos!” Yang dimaksudnya sebagai ”bos” adalah pedagang sampah daur ulang yang selama ini membeli hasil pulungan mereka. Ceritanya memang unik. Sang bos katanya meminjamkan perlengkapan elektronik itu kepada Nali dan kawan-kawan secara sukarela. Bila berminat memilikinya, bisa dibeli. Tapi bila hanya ingin menikmati, sang bos rela meminjamkannya dengan percuma, dengan catatan sewaktu-waktu dapat diambil kembali.

Karena memulung dilakukan secara berkelompok, maka di siang hari rumah di kawasan ini biasanya kosong, ditinggal penghuninya yang bekerja mencari sampah. Nali, perempuan berusia 30-an, sering pergi memulung bersama suami dan anaknya. Wilayah operasi Nali adalah di sekitar BTN Asal Mula, Kampus Unhas Tamalanrea dan Politeknik Unhas. Sedangkan suami dan anaknya menyusuri kawasan di luar Tamalanrea dengan mengandalkan gerobak. Biasanya mereka pulang dengan gerobak yang penuh. ”Gerobak ini pun adalah salah satu fasilitas yang disediakan oleh bos…,” tutur Nali.

Para pemulung cilik, yang membersihkan kota kita.
Foto: Masdiana.

Sang Bos
Pemulung seperti Nali adalah ujung tombak bagi para pedagang sampah daur ulang. Sang bos yang disebut Nali berkali-kali dalam percakapan kami adalah seorang pedagang sampah daur ulang bernama Mumang Daeng Gappa. Daeng Gappa pertama kali merintis usaha bernama ”Istana Plastik” bersama kakak iparnya pada tahun 1975-1980 di Jalan Veteran. Kemudian Daeng Gappa melanjutkan usahanya di Jalan Gunung Bawakaraeng, di dekat Hotel Marlyn. Sejak tahun 1995 ia memusatkan diri untuk mengumpulkan sampah daur ulang di Tamalanrea hingga sekarang.

Dulu Daeng Gappa melakukan kerjasama dengan pabrik Budi Luhur yang terletak di Jalan Angkasa I. Pabrik itu mengolah langsung sampah plastik yang dibeli menjadi baskom, ember, teko, dan sebagainya. Namun kerjasama mereka putus sejak 14 tahun yang lalu, karena menyalahi kontrak yang telah disepakati bersama; bahwa hanya Daeng Gappa yang menjadi pemasok plastik di pabrik itu. Pabrik yang semakin hari semakin berkembang, sehingga membuat Daeng Gappa kewalahan memenuhi bahan baku, yang setiap harinya memerlukan 1 ton plastik. Kini Daeng Gappa melakukan kerjasama dengan penyincang plastik yang ada di Antang serta pabrik-pabrik kecil lainnya.

Dalam satu hari, Daeng Gappa membeli barang yang masih dalam keadaan tercampur. Biasanya dalam satu pekan, ia menjual 1 ton karton dan 100 kilogram plastik. Plastik itu dibedakan menjadi 3 macam, yakni plastik bening (sejenis gelas/botol mineral) dengan harga Rp4.000 per kilogram, plastik BLO (sejenis plastik alat kosmetik) dengan harga Rp3.000 per klogram, dan plastik HD (ember, baskom, kursi, piring, dan semacamnya) dengan harga Rp2.400 per kilogram.

Sedangkan sampah besi dijual Daeng Gappa kepada pihak yang akan mengirim ke Surabaya. Daeng Gappa menyebutnya sebagai tangan ketiga. Sedangkan ia sendiri menempatkan dirinya sebagai tangan kedua, dan para pemulung itu dianggapnya sebagai tangan pertama.

Rumah Daeng Gappa tentu jauh lebih mewah dari rumah Nali. Di sana terparkir dua buah mobil. Satu mobil pribadi yang berwarna hitam dan yang satunya lagi adalah mobil pengangkut barang yang berwarna biru muda. Daeng Gappa mempekerjakan 4 orang karyawan dengan gaji Rp600.000 per bulan. Sedangkan pemulung yang memasok barang kepadanya tidak dikategorikannya sebagai karyawan.

Daeng Gappa mampu mengumpulkan 30 orang pemulung yang membentuk suatu komunitas. Para pemulung itu berasal dari Kabupaten Jeneponto. Mereka semua adalah suatu keluarga yang sudah puluhan tahun menetap di Makassar sebagai pemulung. Nali dan kawan-kawannya yang kemudian mendirikan rumah dan membentuk komunitas di sekitar BTN Asal Mula itu adalah salah satu contoh komunitas pemulung yang bekerja untuk Daeng Gappa.

Tentu banyak suka duka yang telah dilewati pemulung seperti Nali. Salah seorang pemulung lainnya, Deli, bercerita bahwa ia bahkan memulung bersama bayinya yang belum berusia satu bulan. “Anak saya, Sultan yang waktu itu masih berumur satu pekan tapi sudah saya bawa pergi memulung di sekitar kampus. Mahasiswalah yang kadang menjaga dan mengayun bayi saya. Mereka memberi nama Sultan Hasanuddin pada bayi saya yang waktu itu belum punya nama. Mungkin karena mereka mahasiswa Universitas Hasanuddin,” tutur Deli sambil tersenyum. Sultan yang sekarang berumur 5 tahun masih tetap ikut bersama ibunya memulung.

Pemulung seperti Nali dan Deli tentu saja tidak sadar bahwa kegiatan sehari-hari mereka ini telah membantu lingkungan. Sampah plastik yang mereka pungut setiap hari adalah sampah yang mencemari lingkungan. Plastik mengandung senyawa polyvinil clorida yang mempunyai rantai karbon terpanjang. Bahan-bahan yang terkandung dalam plastik sangat sulit terurai dalam tanah sehingga perlu didaur ulang untuk dimanfaatkan kembali. Meski dari kegiatan memulung itu mereka hanya mendapatkan rata-rata Rp10.000 per hari, tapi mereka merasa inilah pekerjaan yang bisa menyambung hidup mereka.

Barang-barang yang mereka kumpulkan itu dipisahkan berdasarkan jenis, bentuk, dan warnanya. Biasanya barang yang mereka peroleh langsung dijual kepada sang bos, Daeng Gappa yang tinggal di kawasan itu juga. Gelas air mineral dijual dengan harga Rp1.500 per kilogram, botol plastik Rp20 per buah, kertas putih Rp400 per kilogram, kertas koran Rp100 per kilogram, dan jenis botol minuman berkarbonasi Rp200 per buah.

Setelah mengunjungi rumah Nali dan pemulung lainnya, saya pulang dengan renungan di kepala. Pemulung, orang kecil yang kerap dilecehkan. Padahal, mereka hanya mengambil barang yang sudah dibuang. Tidak seperti orang yang jelas-jelas sudah mencuri dan korupsi, tapi masih tetap dihormati dan dipuji. (p!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: