Kita Menjadi Bangsa Yang Kalah, benarkah ???

September 30, 2007

Masyarakat sekarang menyatakan kegelisahannya sudah tidak ada cara lagi yang lebih efektif. Kata orang, cara presure lebih ampuh yakni unjuk rasa, dan seterusnya. Namun ternyata cara seperti itu sekarang, tidak lagi ampuh. Malah ketika ada unjuk rasa, selalu dicibir orang. Jangankan memberikan presure, malah sebaliknya. Kata orang, lebih efektif ditulis di media masa.

Ternyata hal itu juga kurang mendapatkan respon, baik dari pengelola pemerintah maupun elemen masyarakat. Mungkin sekarang bisa dianggap kekebalan tubuh dan isi kepala sudah demikian kebal. Tidak pernah sensitif lagi terhadap keluh kesah masyarakat. Jangankan sensitif, mungkin gatel juga enggak, atau malah memikirkan masyarakat juga enggak.

Dan mungkin saja, yang dipikirkan hanya bagaimana diri kita terbebas dari kemiskinan itu sendiri. Hal yang terjadi kepada masyarakat. Tatanan yang bertahun-tahun dibangun, bagaimana merasakan sikap tepo sliro, senasib dan sepenanggungan. Bagaimana kita diajarkan gotong royong. Begitu pula agama, mengajarkan bagaimana habluminanas dan habluminallah.

Seluruh teori tentang kebaikan kini menjadi teks-teks yang tidak pernah dibaca ulang lagi. Teks-teks itu kini tersimpan di laci meja dan entah kapan lagi akan dibuka secara utuh sempurna. Dikembalikan pada habitatnya bahwa teori kebaikan, bukan semata-mata teori tapi tingkat implementasinya.

Seperti halnya sekarang, masyarakat sedang dihadapkan pada kesulitan beras. Beras harganya terus melambung, bahkan mungkin terlalu mahal untuk ukuran masyarakat Kabupaten Kuningan yang kian terpuruk. Sementara pendapatan semakin minim, bahkan konon menurut kabar sudah hampir lima bulan masyarakat kesulitan memeroleh uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Kadang kita tidak habis pikir. Konon katanya negara kita, daerah kita adalah daerah agraris. Hidupnya menggantungkan pada hasil-hasil pertanian. Setiap daerah mengklaim bahwa terjadi pertumbuhan signifikan dalam bidang agraris. Sehingga terjadi perkembangan manjadi agribisnis, agrowisata dan seterusnya. Hal itu menjadi buah bibir di setiap kalangan masyarakat.

Namun hasil gembar-gembor itu apa? Ternyata hasilnya nol besar. Bahkan bisa dikatakan di bawah limit minus. Anggapan ini bukan sebuah kenyinyiran, tapi fakta dan realita di lapangan tidak menggambarkan gembar-gembor itu. Sebab fakta dan realitas di lapangan adalah gambaran jujur dari sebuah program kerja. Apakah berhasil atau tidak. Pertanian yang yang menjadi jargon selama ini ternyata hanya lips servis alias pemanis bibir saja.

Buktinya, harga beras begitu mahal di daerah agraris. Padahal daerah agraris tentu harga beras bukan jadi soal karena seluruh masyarakat mampu memroduksi beras dalam jumlah besar dan hasilnya masyarakat tidak harus membeli beras lagi. Andaikan harus membeli harganya pun tidak seperti sekarang. Sekarang diakui atau tidak, masyarakat kita pembeli atau mengonsumsi beras bukan penghasil.

Ketika menjadi konsumen beras, maka beras hanya dimiliki oleh segelintir orang. Beras hanya dikuasi oleh beberapa orang. Nah beberapa orang inilah yang menentukan harga. Jika harga sudah ditentukan, tentunya masyarakat sebagai konsumen harus mematuhi kehendak si pemilik. Maka harga beras setinggi langit pun harus dibeli, karena masyarakat kita memang belum mampu menggati beras dengan barang lainnya.

Pemerintah, baik pusat maupun daerah ternyata tidak berdaya dengan realitas di lapangan bahwa beras memang sudah menjadi barang lux. Beras sebagai impian dari program swasembada pangan yang konon katanya telah berhasil. Negara kita penghasil beras dan kerap menjadi importir beras. Namun kenyataan sekarang, kita menjadi pengimpor beras kelas utama.

Kita kalah dari Vietnam, kita kalah dari Philipina, begitu pun Singapura yang tidak memiliki lahan pertanian. Kita sekarang telah menjadi bangsa yang kalah di segala bidang. Bangsa kita memang tertinggal jauh dari bangsa-bangsa lain di dunia. Jangankan di dunia, di asia tenggara saja. Kita sudah kedodoran, tidak mampu menyejajarkan secara sempurna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: